Anak Juara dan Anak Sengsara
Fenomena penelitian mengenai otak manusia semakin menunjukkan kehebatan dan kesempurnaan kehebatan organ ini. Bagaimana tidak, dari berbagai macam penelitian yang dilakukan berbagai macam lembaga riset menunjukkan bahwa otak kita mampu untuk menghafal huruf demi huruf 8 buah ensiklopedia yang memiliki ketebalan diatas 1000 halaman. Hal ini merupakan hal yang sangat luar biasa. Namun sepertinya kemampuan otak yang dahsyat ini tidak begitu dimanfaatkan orang-orang untuk memperbaiki kehidupan mereka. Mereka lebih cenderung mengutamakan asupan perut dibandingkan asupan otak. Sehingga yang terjadi adalah kian terabaikannya kemampuan otak yang mereka miliki.
Konsep lebih mementingkan perut ini biasanya sudah mulai ditanamkan orang tua semenjak anak2 mereka ada di usia dini. Sehingga seiring perkembangan waktu, konsep ini membuahkan telur paradigma yang ditempatk an didalam pikiran anak2 ini. Sehingga ketika remaja dan juga dewasa, telur ini akan menetas dan menghasilkan anak paradigma berpikir bahwa perut harus lebih diutamakan.
Mungkin hal inilah yang membuat bangsa-bangsa I elit (ekonomi sulit) benar2 sulit berkembang dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang sudah memiliki ekonnomi yang cukup mapan. Kita lihat fakta dilapangan. Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berkembang atau bisa kita bilang negara miskin yang sedang berusaha berkembang, sulit sekali mengalahkan perkembangan yang dilakukan oleh negara2 ekonomi mapan seperti inggris. Kalau diinggris anak-anak sudah diberikan kebebasan untuk memililh keinginannya guna perbaikan bangsanya, namun di indonesia anak-anak masih harus diminta untuk berpikir besok bisa makan atau tidak dan yang lain sebagaiinya yang erat kaitannya dengan keadaan ekonomi seseorang.
Namun hal diatas seharusnya tidak bisa menjadi legiitimasi negara-negara yang sedang berkembang atas perkembangannya. Sebaliknya, negara berkembang seperti indonesia harusnya bisa membuktikan bahwa hal2 yang telah dipaparkan dimuka tidak akan mempengaruhi perkembangan bangsa ini.
Peran orang tua
Yang memberikan peran penting akan hal ini bukanlah hanya negara saja. Namun perlu juga diperhatikan mengenai lingkungan terkecil dimana si anak ini menghabiskan waktunya, yaitu keluarga. Peran keluarga sangatlah vital seiring dengan pertumbuhan anak. Banyak anak yang terpaksa tidak bisa mengenyam pendidikan dikarenakan keadaan ekonomi keluarganya dan ada juga keluarga yang berekonomi kecukupan bahkan berlebih, tidak bisa menghasilkan anak yang berhasil karena ketidak rukunan yang terjadi di keluarga tersebut.
Fakta inilah yang senantiasa menemani paradoks kehidupan mereka. Oleh karenaitu pendidikan anak dilngkungan keluarga sangatlah memiliki fungsi yang strategis dalam perkembangan bangsa ini ditahun-tahun yang akan datang.
Orang tua seharusnya memperlakukan anak selayaknya memperlakukan anak. Bukan memperlakukan mereka seperti robot apalagi seperti budak. Anak dalam berbagai macam tahap pertumbuhannya membutuhkan pengertian dan juga kedewasaan orang tua mereka dalam menghadapi kehidupannya. Misal: anak usia balita akan membutuhkan perhatian yang berbeda dengan anak usia sekolah dasar. Dan begitu seterusnya. Kejelian orang tua pun dituntut disini untuk memberikan apa saja yang seharusnya dimiliki si anak. Orang tua seharusnya terus memberikan berbagai macam motivasi hidup untuk anak-anknya agar tidak mudah patah arang ditengah jalan kelak. Selain motivasi, anak-anak juga membutuhkan perhatian dan pengertian orang tuanya. Sehingga proses belajar yang sedang dihadapi si anak akan semakin membaik seiring perkembangan waktu dan juga si anak dapat memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Terutama potens otaknya.
Proses pendidikan didalam keluarga inilah yang akan membedakan kualitas hidup seorang anak. Apakah ia akan menjadi anak juara atau anak sengsara?!