Resolusi DK PBB No 1860/2009

Resolusi DK PBB No 1860/2009
(Tentang serangan militer Israel ke Jalur Gaza)

* Segera dilakukan gencatan senjata untuk jangka lama dan dihormati kedua belah pihak, serta penarikan mundur seluruh pasukan Israel dari Gaza
* PBB mengungkapkan keprihatinan mendalam atas meningkatnya kekerasan dan krisis kemanusiaan yang makin parah di Gaza
* Penyeberangan di perbatasan menuju Gaza harus dibuka lagi dan memastikan langkah-langkah untuk mencegah penyelundupan senjata menuju Jalur Gaza.
* Mengutuk segala bentuk kekerasan dan sikap permusuhan terhadap warga sipil dan menyerukan agar akses pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza tidak dirintangi

Dari 15 Anggota Dewan Keamanan (DK) PBB, 14 mendukung resolusi, 1 abstain

14 Negara mendukung
1. Austria
2. Burkina Faso
3. Kosta Rika
4. Kroasia
5. Jepang
6. Libya
7. Meksiko
8. Turki
9. Uganda
10. Vietnam
11. China
12. Prancis
13. Rusia
14. Inggris

1 Negara Abstain
Amerika Serikat

Israel ga mematuhi!
kalo PBB aja sebagai lembaga yang mengatur perdamaian didunia ga dipatuhi apalagi negara2 biasa?

Amerika ga setuju kerena memang sahabat sejatinya Israel..
eh bukan, Amerika itu BUDAKNYA ISRAEL!!

By rizza Posted in 1

israel kurang ajar!!

setelah melakukan penyrangan dipesisir wilayah gaza dan lewat udara,,

tentara israel laknatullah sekarang mulai memasuki wilayah pemukiman padat penduduk dengan dalih mencari HAMAS..

padahal sebelum mereka masuk kewilayah pemukiman pun yang mereka bunuh bukan hanya pasukan HAMAS, melainkan warga sipil.

untuk diketahui sampai saat tulisan ini diposting, jumlah korban dipihak palestina ada 870 orang!

sedangkan israel hanya 23 orang..

gila!

APTOPIX MIDEAST ISRAEL PALESTINIANS

mesjid sekaligus sekolah ini telah menjadi korban dari serangan israel ke pemukiman sipil..

DIMANA HATI NURANI KALIAN!!!!!!!!!!!!!!

By rizza Posted in 1

Ratapan Anak Palestina

AYAH!!

Kata mereka engkau penjahat padahal sebenarnyabukan penjahat

Ayah!!!

Mengapa mereka menjauhkan aku darimu

Mereka menangkapmu tanpa memberi kesempatan mendekapku walau hanya sekali

atau mengusap air mata ibu…

Ibu! Aku melihat air mata dikelopak matamu setiap pagi

Apakah negeriku tidak berhak diberi pengorbanan?!

setiap hari aku bertanya pada matahari

Ibu, apakah ayah akan kembali pada suatu hari,

ataukah ia akan pergi sampai hari kiamat nanti

ataqu dia akan mngusap air mata Ibu yang menetes setiap hari

Wahai Ayah dimana engkau?

Ooh bayi-bayi yang dijajah

kini telah datang hari raya baru setelah hari raya tahun lalu

Dan bayi barupun telah lahir sesudah bayi yang itu

para syuhada telah gugur setelah syahid yang lalu

sedangkan ayah masih disembunyikan dibalik jeruji besi

yang tak layak dihuni manusia

Mana hari kemenangan dan hancurnya penjara besi itu!!!!!!

Malulah Kalian! Malulah Kalian!!

Aku ingin Ayah pulang! Aku ingin Ayah Pulang! Aku ingin Ayah Pulang!

By rizza Posted in 1

Miris Ya

miris ya..

ternyata guys..

ketika kita tidur nynyak di kasur kita, mereka disana tidur dengan ditemani suara roket, bom, deru mesin panser dan tank,,

ternyata saat kita disini mengeluh karena kehujanan air,, mereka disana dihujani roket pesawat Israel dan ga ngeluh,,

ternyata guys ketika kita bisa makan enak, mereka disana harus menunggu terbukanya blokade mesir untuk menunggu bantuan datang baru bisa makan..

ternyata guys.. ketika kita berangkat sekolah atau kerja atau ke kampus dengan males2an dan dengan langkah gontai,,, mereka harus berhadapan dulu dengan pasukan Israel buat menuju ke sekolah, syukur kalo dibiarkan lewat, namun kenyataannya mereka ditodong senjata dulu terus kalo tentaranya lg ga berminat ngebunuh ya slamet deh, tapi kalo tentaranya lagi pengen ngebunuh, ya……………………..

4

ternyata guys kita tuh ga da apa2nya dibandingkan mereka..

masih mau ngeluh guys??

By rizza Posted in 1

Israel Laknatullah!

Bagi Kalian yang masih punya hati dan masih punya rasa kemanusiaan, BANGKIT!!

bantu saudara2 kita disana…..

boikot Kuffar Quaraisy (dakwatuna.com)

Boikot Kuffar Quraisy Terhadap Nabi
Oleh: Tim dakwatuna.com

dakwatuna.com- Penentangan kaum kuffar terhadap dakwah Islam dilakukan dengan segala cara. Dengan cara hal yang manis menggiurkan, berupa tawaran duniawi, cara ini tidak mempan. Dengan cara tawar menawar, yaitu tawaran kepada Muhammad saw. agar menyembah tuhan mereka sehari, dan mereka menyembah Tuhannya Muhammad sehari. Dengan cara teror, intimidasi bahkan upaya pembunuhan. Semua cara berujung kegagalan.

Demikianlah Allah menggagalkan teror, tipuan, dan tawar menawar di hadapan gelombang dakwah di jalan Allah swt. Mereka gagal memadamkan cahaya iman dan tauhid.

Maka kaum Quraisy kembali menggunakan cara kekerasan dan penindasan kepada kaum muslimin dengan perlakuan yang tidak tertahankan manusia kecuali mereka yang beriman. Rasulullah saw. yang melihat penderitaan para sahabatnya itu, dan sama sekali tidak bisa melawan, menyuruh mereka untuk meninggalkan kampung halamannya itu, dilandasi oleh semangat menyelamatkan, maka terjadilah hijrah ke Habasyah.

Dengki Pangkal Penentangan

Tidak diragukan lagi bahwa penyebab semua ini adalah rasa iri (hasad) dan kesombongan tanpa argumentasi seperti yang dilakukan oleh Al-Walid bin Al-Mughirah, yang mengatakan:

أَيَنْزِلُ عَلَى ” مُحَمَّدٍ ” وَأُتْرَكُ أناَ كَبِيْرُ قُرَيْشٍ وَسَيِّدُهَا وَيُتْرَكُ أَبُوْ مَسْعُوْدٍ، وَنَحْنُ عَظِيْمَا الْقَرْيَتَيْنِ ؟

“Bagaimana mungkin diturunkan kepada Muhammad, tidak kepadaku, sedangkan aku yang menjadi pembesar dan pemimpin suku Quraisy, tidak diberikan kepada Abu Mas’ud, sedang kami berdua yang menjadi para pembesar dua negeri.”

Maka Allah turunkan ayat 31-32 surah Az Zukhruf:

“Dan mereka berkata: “Mengapa Al Quran Ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini? Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Pemboikotan Total

Kaum musyrikin berkumpul untuk menetapkan cara efektif menghentikan Islam dan Nabinya. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan untuk menulis selembar kesepakatan pemutusan hubungan total dengan Bani Hasyim dan Bani Abdil-Muththalib. Pengumuman itu berisi:
Barang siapa yang setuju dengan agama Muhammad, berbelas kasihan kepada salah seorang pengikutnya yang masuk Islam, atau memberi tempat singgah pada salah seorang dari mereka, maka ia dianggap sebagai kelompoknya dan diputuskan hubungan dengannya.
Tidak boleh menikah dengannya atau menikahkan dari mereka.
Tidak boleh berjual beli dengan mereka.

Kemudian mereka gantung pengumuman ini di salah satu sudut Ka’bah untuk menegaskan kekuatan isinya.

Pertolongan Allah

Di tengah penderitaan inilah Allah swt. menundukkan sebagian orang Quraisy untuk membantu kaum muslimin yang terisolir. Di antara mereka itu adalah Hisyam bin Amr, seorang yang dimuliakan kaumnya. Hisyam membawa untanya penuh makanan di malam hari ke Bani Hasyim dan Bani Muththalib. Begitu sampai di dekat lembah ia lepaskan kendali untanya kemudian dihentikannya unta itu. Demikian juga ketika untanya itu membawakan pakaian. Untuk meringankan penderitaan kaum muslimin yang terisolir.

Di tengah isolasi total ini Bani Hasyim dan Bani Muththalib ikut bergabung baik yang muslim maupun yang kafir kepada Rasulullah saw, mereka masuk ke syi’b (lembah) Bani Hasyim. Mereka yang kafir bergabung dengan motivasi kesukuan dan kekerabatan, sedang yang muslim dengan motivasi akidah. Selain Abu Lahab, yang berada bersama kafir Quraisy mendukung permusuhannya dengan kaumnya.

Keadaan ini berlangsung selama tiga tahun, kaum Quraisy. Kaum Quraisy semakin memperketat isolasinya kepada kaum muslimin sehingga mereka tidak memiliki bekal makanan. Kesulitan mereka sampai pada kondisi hanya makan dedaunan.

Anak-anak kaum Muslimin menangis kelaparan, dan tangisan mereka terdengar dari balik lembah. Kaum Muslimin tetap sabar dan tegar dari tekanan yang mencelakakan ini dengan terus mengharapkan pertolongan Allah.

Bentuk Kemarahan dan Penindasan

Perhatikanlah bentuk kemarahan yang sampai ke puncaknya. Ketika datang kafilah datang ke Mekah, dan salah seorang sahabat Nabi datang ke pasar untuk membeli makanan bagi keluarganya, maka Abu Lahab seketika itu mengumumkan kepada para pedagang:

يَا مَعْشَرَ التُجَّارِ غَالُوْا عَلَى أصْحَابِ ” مُحَمَّد ” حَتَّى لاَ يُدْرِكُوْا مَعَكُمْ شَيْئاً، وَقَدْ عَلِمْتُمْ مَالِي وَعَلِمْتُمْ كَذَلِكَ وَفَاءَ ذِمَّتِي، فَأنَا ضَامِنٌ، وَلاَ خَسَارَةَ عَلَيْكُمْ

“Wahai para pedagang! Naikkan hargamu kepada sahabat-sahabat Muhammad sehingga mereka tidak bisa membeli apapun, kalian semua sudah mengetahui kekayaanku, dan kalian sudah tahu bahwa saya akan menepati janjiku, saya akan mengganti kalian semua, tidak akan ada kerugian atas kalian.”

Maka para pedagang itu menaikkan harganya berlipat-lipat, dan ketika sahabat itu pulang kembali ke rumahnya, anak-anaknya menangis kelaparan, dan tangannya kosong tidak membawa makanan yang bisa mereka konsumsi.

Kemudian pedagang itu datang ke rumah Abu Lahab, membayar makanan dan pakaian yang mereka bawa, sehingga kaum mukminin mengalami kelaparan.

Pembatalan Lembar Pengumumam

Allah swt. tidak akan pernah melupakan Nabi pilihan-Nya dan orang-orang yang beriman bersamanya. Maka Allah jadikan hati orang-orang masih punya kasih sayang, berbelas kasihan kepada mereka. Hal ini jelas sejak Hisyam bin Amr yang membawa untanya dengan perbekalan makanan lalu diarahkan ke Syi’b, mengantarkan makanan kepada kaum muslimin yang terisolir.

Hisyam din Amr kemudian menghubungi Zuhair bin Abi Umayyah bin Al Mughirah, ia sampaikan kepadanya, “Wahai Zuhari, relakah kamu makan makanan, berpakaian, dan menikah, sementara paman dan bibimu dalam keadaan yang kamu tahu, tidak boleh jual beli, tidak boleh menikah atau dinikahi. Sedang aku bersumpah dengan nama Allah: Bahwa kalau paman bibinya Abul Hakam bin Hisyam (Abu Jahal), kau ajak seperti yang aku sampaikan kepadamu, mereka tidak akan pernah mau menerimanya.

Zuhair berkata: “Celaka sekali wahai Hisyam, lalu apa yang bisa kita lakukan? Aku hanya seorang diri. Demi Allah, jika ada orang lain bersama dengan kami, maka kami akan cabut isolasi ini, aku batalkan embargo ini.”

Hisyam bin Amr menjawab, “Aku menemukan orang lain.”

Kata Zuhair bin Abi Umayyah, “Siapa dia?”

Kata Hisyam, “Saya.”

Kata Zuahair, “Cari seorang lagi, sehingga kita bertiga.”

Kemudian Hisyam menemui Muth’im bin Adiy, menceritakan seperti yang disampaikan kepada Zuhair bin Umayyah

Kata Muth’im, “Carilah orang ke empat.”

Kemudian Hisyam menemui Abul Buhturiy bin Hisyam, ia sampaikan seperti yang ia sampaikan kepada Muth’im bin Adiy

Abul Buhturiy bertanya, “Adakah orang lain yang membantu hal ini?”

Kata Hisyam, “Ada.”

Kata Abu Buhturiy, “Siapa dia.”

Kata Hisyam, “Zuhair bin Umayyah, Muth’im bin Adiy, dan aku bersamamu

Kata Al Buhturiy, “Carilah orang kelima.”

Kemudian Hisyam menemui Zam’ah bin Al-Aswad bin Al-Muththalib, ia sampaikan kepadanya tentang kedekatan hubungan keluarganya dan hak mereka.

Zam’ah menanyakan, “Apakah urusan yang kau sampaikan kepadaku ini ada orang lain?”

Kata Hisyam, “Ada,” kemudian ia sebutkan orang-orang yang telah ia temui.

Kemudian mereka bersepakatan untuk bertemu malam hari di sebuah bukit di Mekah.

Di sanalah mereka berkumpul dan bersepakat untuk membatalkan pengumuman pembokiotan. Dan ketika datang pagi hari mereka pergi ke tempat pertemuannya. Zuhair bin Umayyah thawaf di Ka’bah tujuh kali putaran. Kemudian berdiri menghadapkan wajahnya kepada para hadirin dan mengatakan:

Wahai warga Mekah, apakah kita makan, memakai pakaian sementara Bani Hasyim mati kelaparan, tidak boleh jual beli, demi Allah saya tidak akan duduk sehingga pengumuman embargo yang zhalim ini dirobek.

Abu Jahal berkata -ada di salah satu sudut masjid, “Bohong kamu, demi Allah, pengumuman itu tidak boleh dirobek.”

Zam’ah bin Al-Aswad: Engkau, demi Allah, lebih pendusta, kami tidak pernah menyetujuinya sejak engkau menulisnya.

Abul Buhturiy berkata, “Benar Zam’ah, kami tidak setuju tulisan itu dan tidak pernah mengakuinya.”

Al-Muth’im bin Adi berkata, “Kalian berdua benar, dan bohong orang yang mengatakan selain yang kalian berdua katakan. Kami berlepas diri darinya dan tulisan yang ada di dalamnya.”

Hisyam bin Amr berkata seperti yang dikatakan Al-Muth’im bin Adiy

Abu Jahal berkata, “Ini pasti sudah diputuskan di malam hari, kalian telah bermusyawarah tentang hal ini di luar tempat ini.”

Abu Thalib saat itu berada di salah satu sudut masjid menyaksikan pertarungan yang terjadi di antara mereka.

Kemudian Muth’im bin Adiy berdiri ke tempat ditempelkannya pengumuman itu untuk merobeknya, dan ternyata pengumuman itu sudah dimakan tanah kecuali kalimat ‘Bismikallahumma’ yang menjadikan kebiasaan orang Arab menulis surat.

Perhatikanlah, bagaimana Allah swt. menundukkan mereka ini untuk membantu Islam dan kaum muslimin, berdiri di sisi yang benar. Tidak diragukan lagi bahwa yang mendorong hal ini adalah pertolongan Allah swt. pada rasul-Nya, dan kaum mukminin yang ada.

Kemudian perhatikan pula, tanah yang makan pengumuman itu, kecuali nama Allah Yang Maha Agung. Hal ini menjadi bukti yang sempurna bahwa Allah swt. Maha Suci dari seluruh ucapan orang-orang zhalim.

Dampak Embargo

Embargo ini berdampak baik bagi Islam dan kaum muslimin, antara lain:
Kaum muslimin dapat mengambil pelajaran langsung tentang kesabaran dan daya tahan. Mereka menyadari bahwa kehilangan keuntungan dan hancuran sarana-sarana kebaikan tertentu adalah kewajiban pertama yang harus diberikan dalam pengorbanan di jalan aqidah. Tekanan-tekanan itu tidak akan membunuh para da’i bahkan semakin memperkuat akar dan dahannya.
Bahwa ketika Allah swt. menghendaki salah seorang hamba-Nya menfokuskan diri pada da’wah, kebaikan, dan perbaikan, akan diletakkan di hatinya rasa tidak senang dengan apa yang dialami masyarakatnya, yang berupa kerusakan dan kesesatan.
Orang-orang Quraisy tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, cepat atau lambat, fajar baru akan terbit, Mekah akan bersih dari berhala, Adzan berkumandang di seluruh sudutnya, dan orang-orang yang pernah diboikot itu akan menjadi pemegang kendali, para pemimpin yang memutuskan persoalan, dan mereka menjadi tawanan yang mengharapkan ampunan. Mereka hanya meyakini bahwa hari ini dan nanti adalah milik mereka, akan tetapi Allah balikkan harapannya, dan memberikan kemenangan besar kepada pembawa kebenaran.

“Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya.” (Arrum: 4-5).

Pelajaran Berharga

Motivasi akidah adalah satu-satunya motivasi kaum muslimin untuk memeluk Islam, meskipun menghadapi tekanan keras, dan tidak ada motivasi lain, apalagi yang bersifat materi.
Di antar cara bijak para da’i menghadapi ahlul batil adalah dengan argumentasi dan bukti, serta mendakwahinya dengan berangkat dari realitas yang mereka alami, tidak boleh menyikapi siksaan dengan siksaan, makian dengan makian.
Seorang muslim tidak boleh tunduk dan bertahan dengan gangguan jika mampu membalasnya, atau ada orang yang membantunya menangkis siksaan itu. Seperti yang dilakukan kaum muslimin ketika Hamzah dan Umar masuk Islam, serta bantuan keluarga seperti Abu Thalib.
diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menangkis ahlil batil, mengungkapkan kepalsuan akidahnya, penyimpangan fikrahnya dengan serangan tidak membahayakan diri da’i dan teman-temannya dari jebakan musuh.
Seorang pemimpin sukses adalah yang mampu mencerahkan pasukan dan potensinya untuk menghindari gangguan, dan beralih kepada peperangan terbuka melawan musuhnya pada waktu, tempat yang baik bagi da’wah.
Hijrah kaum muslimin ke Habasah adalah buah dari hubungan baik antara Islam dan Nasrani, serta kesepakatan untuk melawan kaum musyrikin, optimalisasi kekuatan yang tidak mengganggu dan memusuhi Islam dengan terbuka.
Jika seorang muslim komitmen dengan akidah yang lurus, maka akan mengusir kebimbangan hatinya, menguatkan cahaya keyakinan hatinya.
Kaum kafir melakukan pemutusan total dengan Rasulullah dan kaum muslimin karena Islam mulai menggoncang sendi-sendi aqidah mereka yang batil dan eksistensi spiritualnya dengan kuat. Mereka hanya mengikuti agama nenek moyang dan para pendahulunya.
Para pemimpin simbolis yang mendapatkan keuntungan materi, status sosial adalah orang-orang pertama yang memusuhi Islam, dan akan terus memusuhinya karena ia takut kehilangan posisi dan popularitas diri. Kehilangan kekuasaan dan kedudukan.
Masuk Islamnya Umar dan Hamzah adalah masuk Islamnya pemimpin yang akan berperan banyak dalam keseimbangan haq (benar) dan batil (salah).
Kaum muslim memanfaatkan semangat kesukuan dalam mencabut embargo
Para da’i ilallah keluar dari ujian dan penderitaan yang menimpanya dalam keadaan lebih tangguh, lebih kaya pengalaman, lebih mampu bergerak mencapai sasarannya, ketika mereka dapat mengambil buah ujian itu.
Tsiqah yang utuh dengan janji Allah yang akan memberi pertolongan dan tsiqah yang utuh kepada pemimpin dibarengi dengan harapan pahala di sisi Allah.
Berkorban dengan jiwa dan yang paling berharga adalah ciri para da’i yang mengharapkan balasan dari Allah.
Pertolongan itu pasti datang jika sifat-sifat kelayakan untuk mendapatkan pertolongan itu terpenuhi.
Ahlul batil mengeluarkan hartanya untuk meninggikan kebatilannya, maka menjadi kewajiban ahlul haq untuk membelanjakan yang mahal dan mulia dalam rangka meninggikan kalimatul haq (kebenaran).
Bangsa Arab meski dalam jahiliyah memiliki janji dan kesepakatan yang tidak bisa dilanggar kecuali jika menyatakan dengang terbuka pembatalah janji itu. Dari itulah mereka tidak bisa keluar dari isi pengumuman itu sebelum pengumuman itu dirobek.
Allah swt menjaga kaum muslimin, dan menundukkan tokoh-tokoh kafir untuk membela mereka dan memecah barisan kaum musyrikin.
Allah memiliki beberapa pasukan, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah yang bekerja untuk membantuk kaum muslimin, seperti yang dilakukan tanah terhadap lembar pengumuman embargo. Allahu a’lam.

Referensi

a. As-Sirah An-Nabawiyah Durusun wa ‘Ibar, karya – DR. Musthafa As-Siba’

b. Sirah Nabawiyah – Ibnu Hisyam

c. Zaadul Ma’ad – Ibnul Qayim

d. Arrahiqul Makhtum – Al Mubarak Furi

e. Nurul Yaqin – Khudhari

f. Assirah Annabawiyah – Ibnu Katsir

Fighting continues as Israel considers peace plan

GAZA CITY, Gaza – Plumes of smoke engulfed a neighborhood east of Gaza City on Wednesday as Israel’s leaders considered a peace plan put forth by France and Egypt on the 12th day of their campaign to stop rocket fire into Israel.

Sounds of heavy gunfire engulfed the Zeitoun neighborhood east of Gaza City and Israel said it struck 40 Hamas targets during the hours of darkness. One morning airstrike killed four people, Gaza officials said, but their identities were unclear.

The Islamic militants said they ambushed an Israeli tank and set it ablaze. However, the Israeli military said it had no information on any such incident and previous Hamas announcements of hitting Israeli troops have proved unfounded.

The fighting comes a day after France and Egypt announced a plan to stop the fighting, an initiative spurred on by an Israeli mortar strike near a United Nations school that killed at least 30 Palestinians and stained the streets with blood.

The U.N. said the school was sheltering hundreds of people displaced by the onslaught on Hamas militants. Israel said its troops returned fire on a Hamas squad that fired mortars at them.

In the wake of the criticism over civilian casualties, Israel agreed to set up a “humanitarian corridor” to ship vital supplies into the Gaza Strip. Under the plan put forward by the Israeli Defense Ministry, Israel would suspend attacks in certain areas to allow people to get supplies.

The Egyptian and French presidents released no details of their proposal, saying only that it involved an immediate cease-fire to permit humanitarian aid into Gaza and talks to settle the differences between Israel and Hamas, which rules the small coastal territory.

They said they were awaiting a response from Israel. Officials in Jerusalem declined comment on the announcement, which came amid diplomatic efforts by the U.S. and other nations to resolve a conflict that has seen 600 Palestinians killed.

Eleven Israelis have been killed since the offensive began: three civilians and a soldier by rocket fire and seven soldiers in the ground offensive, according to Israeli officials.

Secretary of State Condoleezza Rice welcomed the initiative but cautioned that no agreement would succeed unless it halted Hamas rocket attacks on Israel and arms smuggling into Gaza.

Earlier on Tuesday, President-elect Barack Obama broke his silence on the crisis, saying that “the loss of civilian life in Gaza and in Israel is a source of deep concern for me.” He declined to go further, reiterating his stance that the U.S. has only one president at a time.

Israel’s military said its shelling at the school — the deadliest single episode since Israeli ground forces invaded Gaza on Saturday following a weeklong air bombardment — was an attack on a military target and accused Hamas militants of using civilians as cover.

Two residents of the area who spoke with The Associated Press by telephone said they saw a small group of militants firing mortar rounds from a street near the school, where 350 people had gathered to get away from the shelling. They spoke on condition of anonymity for fear of reprisal.

An Israeli defense official, speaking on condition of anonymity because he was not allowed to make the information public, said it appeared the military used 120-mm shells, among the largest mortar rounds.

U.N. officials demanded an investigation of the shelling. The carnage, which included 55 wounded, added to a surging civilian toll and drew mounting international pressure for Israel to end the offensive against Hamas.

At a news conference in Sharm-el-Sheik, Egypt, Egyptian President Hosni Mubarak said the truce proposal offered by him and French President Nicolas Sarkozy envisioned an immediate end to combat, so humanitarian supplies can safely enter Gaza.

Mubarak said the plan also calls for an urgent meeting between Israel and the Palestinians to discuss ways to resolve the conflict and provide necessary guarantees to ensure fighting doesn’t erupt again.

There was no indication of the plan’s chances. Sarkozy said at the news conference that he saw it as a “small hope” for ending the Gaza violence.

Sarkozy said he had spoken to Israeli Prime Minister Ehud Olmert to inform him of the initiative and was awaiting a response. In Jerusalem, Olmert’s spokesman, Mark Regev, told AP: “We are holding off comments on that for the time being.”

At U.N. headquarters, Palestinian President Mahmoud Abbas welcomed the proposal. “I express my support for the plan set in motion today by President Mubarak and President Sarkozy,” said Abbas, who was in New York for a Security Council meeting on the Gaza crisis.

Israeli officials have said any cease-fire agreement must prevent further rocket attacks by Gaza militants and put in place measures to prevent the smuggling of missile and other weapons into the small Palestinian territory.

Rice told the Security Council meeting that the U.S. understood the growing desire for a cease-fire and commended the initiative. But she added that any solution must address Israel’s security.

“There must be a solution this time that does not allow Hamas to use Gaza as a launching pad against Israeli cities. It has to be a solution that does not allow the rearmament of Hamas, and it must be a solution that finds a way to open (border) crossings so that Palestinians in Gaza can have a normal life,” she said.

U.N. Secretary-General Ban Ki-moon called the Israeli bombardment of U.N. facilities in Gaza “totally unacceptable.” Israel’s shells have fallen around three schools, including the girls school hit Tuesday, and a health center for Palestinian refugees.

Ban added that it was “equally unacceptable” for militants to take actions that endanger Palestinian civilians, referring to the practice of militants making attacks from residential areas.

In Gaza, U.N. official Christopher Gunness hoped an investigation would show whether militants were using U.N. schools for weapons or activities. “It is just not in our interests to have militants, whether in war or peace, in our installations,” he said in a statement.

Some 15,000 Palestinians have packed the U.N.’s 23 Gaza schools because their homes were destroyed or to flee the violence. The U.N. provided the Israeli military with GPS coordinates for all of them.

The three mortar shells that crashed down on the perimeter of the U.N. school struck at midafternoon, when many people in the densely populated camp were outside getting some fresh air, thinking an area around a school was safe.

Images recorded by a cameraman from AP Television News showed crowds fleeing the scene, pavements smeared with blood and battered bodies being carried off by medics and bystanders. A youth who limped away was helped along by several others. Sandals lay scattered on the pavement by a pockmarked wall.

“There’s nowhere safe in Gaza. Everyone here is terrorized and traumatized,” said John Ging, head of Gaza operations for the United Nations Relief and Works Agency.

Two residents who spoke to an AP reporter by phone said the two brothers were known to be low-level Hamas militants. They said a group of militants — one of them said four — were firing mortar shells from near the school.

An Israeli shell targeted the men but missed and they fled, the witnesses said. Then another three shells landed nearby, exploding among civilians, they said.

An Israeli military statement said it received intelligence that the dead at the girls school included Hamas operatives, among them members of a rocket-launching squad. It identified two of them as Imad Abu Askar and Hassan Abu Askar.

A total of 71 Palestinians were killed Tuesday — with just two confirmed as militants, Gaza health officials said. An Israeli infant was wounded by one of about two dozen rockets fired into southern Israel by Gaza militants.

___

Associated Press writers Ibrahim Barzak reported this story from Gaza City and Aron Heller from Jerusalem.